Sabtu, 17 November 2012

cerpen

   Kringg....krinnggg...kringgg...tanpa ku toleh pun aku tahu itu adalah suara sepeda pak tua di samping rumahku.Suara roda dan denyit rantai tua itu sungguh memilukan tapi pak tua masih tetap saja beliau tidak mau membawanya ke bengkel,ku pikir pak tua itu pelit tapi setiap melihat senyum yang tulus darinya tiap pagi membuat ku meresa bersalah telah menuduhnya seperti itu
    ''mari nak?''sapanya membuyarkan lamunanku
    ''i...iiiya pak silahkan".jawabku tergagap
Keesokan harinya saat aku sedang menyapu pak tua menghampiriku
    "pinjam pompa ada nak"?tanyanya
    "ada pak ,sebentar ya".kataku sambil berlalu
ku ambil pompa dan ku berikan pada pak tua.Kuamati saat beliau memompa ban sepeda tuanya
    "Pak mengapa sepeda itu masih di pakai saja ,kan sudah rusak sana sini"! uuppss bodohnya aku!bisa bisanya keceplosan berkata seperti itu,aku paham bila nanti Pak Tua marah atas ucapanku barusan.
    "hehehe,tidak nak sepeda ini kesayangan bapak,sepeda ini penuh sejarah"kata beliau tanpa kehilangan sedikitpun senyumannya.
    "Maaf Pak saya tidak bermaksud seperti itu"ucapku salah tingkah
    "Tak apa,bapak sudah tahu kok.Semua orang juga sudah berkata seperti itu.Bapak sudah kebal"kata beliau lagi
Diam diam aku merasa kasihan pada Pak Tua "Memangnya apa sejarahnya pak?"tanyaku
   "hahaha,kau yakin mau dengar?"tanya pak tua
aku hanya menganggukkan kepala
    "Dulu waktu penjajahan Belanda desa kita sering diperas oleh Belanda karena hasil bumi desa kita yang melimpah.Suatu hari akhirnya bahan makanan desapun habis juga.Tetua kampung akhirnya mengusulkan agar kita mengungsi dan dengan sepeda inilah bapak kabur bersama isteri bapak dan calon anak bapak.Saat itu isteri bapak sudah mau melahirkan,bapak memboncengkannya dan mengayuh sekuat tenaga ke desa lain untukk mencari bantuan.Akhirnya isteri bapak dapat melahirkan anak bapak dengan selamat namun naas bagi isteri bapak dia meninggal satu jam setelah melahirkan".pak tua berkaca kaca mengenangnya
    "Dan ya sepeda ini yang jadi kenangan bapak kepada isteri bapak"kata pak tua sambil menyentuh sadel sepeda itu lembut
    "Wah mengharukan sekali pak".tak terasa aku meneteskan air mata
    "Tapi kenapa Bapak tidak mau membawanya ke bengkel pak jika sepeda itu sangat berharga"tambah ku
    "Bapak tidak ingin orang lain menyentuh sepeda kenangan bapak dengan Marni isteri bapak.Bapak yang lebih suka memperbaikinya sendiri".katanya menjelaskan
    "Ya sudah kok malah jadi ngelantur disini.Bapak permisi dulu ya nak,ini pompanya.Terima kasih".
    "Iya pak sama sama.Terima kasih juga untuk ceritanya ya pak".
    "Iya.Mari nak".ucapnya sambil berlalu
Kupandangi punggung renta itu menjauh.Maaf Pak Tua atas prasangkaku padamu.Sekarang aku tak kan terganggu lagi oleh suara sepeda tua mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar